Wisata Kuliner Medan

Wisata Kuliner Medan
Medan Culinary, For Detail Visit Here.

Google Website Translator Gadget

Custom Search

Senin, 03 Oktober 2011

Teach citizenship; stop “dumbing down”

Teach citizenship; stop "dumbing down"

Our schools aren't safe. On top of that, our kids aren't learning. Too many are dropping out of school and into the street life-and too many of those who do graduate are getting diplomas that have been devalued into "certificates of attendance" by a dumbed-down curriculum that asks little of teachers and less of students. Schools are crime-ridden and they don't teach.

How long do we think the U.S. can survive schools that pretend to teach while our kids pretend to learn? How can a kid hope to build an American Dream when he hasn't been taught how to spell the word "dream"?

Public education was never meant to only teach the three R's, history, and science. It was also meant to teach citizenship. At the lower levels it should cover the basics, help students develop study habits, and prepare those who desire higher education for the tough road ahead. It's a mandate the public schools have delivered on since their inception. Until now.

Source: The America We Deserve, by Donald Trump

End "creative spelling," "estimating," & "empowerment"

The people running our public schools don't want to damage a student's self-esteem. They're concerned about "empowerment." They're worried kids will feel bad if they get a problem wrong or flunk a spelling test. It's better to pat a kid on the head and praise his "creative spelling" than point out that there is a traditional name for people with poor spelling skills. We call them illiterates.

Some educators think being "judgmental" is the worst of all sins. The problem is that life tends to judge-and harshly at that. There's no room for error when you're launching the space shuttle. Or mixing the concrete for the foundation of Trump Tower, for that matter. Try giving a number "in the neighborhood of" on your tax returns and you may end up in a place where there's a very definite number stamped on the back of your shirt.

Source: The America We Deserve, by Donald Trump.

Bring on the competition; tear down the union walls

Our public schools have grown up in a competition-free zone, surrounded by a very high union wall. Why aren't we shocked at the results? After all, teachers' unions are motivated by the same desires that move the rest of us. With more than 85% of their soft-money donations going to Democrats, teachers' unions know they can count on the politician they back to take a strong stand against school choice.

Our public schools are capable of providing a more competitive product than they do today. Look at some of the high school tests from earlier in this century and you'll wonder if they weren't college-level tests. And we've got to bring on the competition -open the schoolhouse doors and let parents choose the best school for their children.

Education reformers call this school choice, charter schools, vouchers, even opportunity scholarships. I call it competition-the American way.

Source: The America We Deserve, by Donald Trump.

School choice will improve public schools

Defenders of the status quo insist that parental choice means the end of public schools. Let's look at the facts. Right now, nine of ten children attend public schools. If you look at public education as a business- and with nearly $300 billion spent each year on K-through-twelve education, it's a very big business indeed-it would set off every antitrust alarm bell at the Department of Justice and the Federal Trade Commission. When teachers' unions say even the most minuscule program allowing school choice is a mortal threat, they're saying: If we aren't allowed to keep 90% of the market, we can't survive. When Bell Telephone had 90% of the market, a federal judge broke it up.

Who's better off? The kids who use vouchers to go to the school of their choice, or the ones who choose to stay in public school? All of them. That's the way it works in a competitive system.

Source: The America We Deserve, by Donald Trump.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 11 Februari 2011

Berilah maka engkau akan menerima

Seseorang telah menuliskan kata-kata yang indah ini.
Cobalah ambil sedikit untuk mengerti maknanya

1. Doa bukanlah "ban serap" yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi "kemudi" yang menunjukkan arah yang tepat.

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil?
Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita.
Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara.
Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya.
Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas!
Teman baru adalah berlian!
Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata " Tenang sayang, itu hanyalah bengkokan, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.

8. Seorang buta bertanya pada St. Anthony : "Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?" Dia menjawab : "Ya ada, kehilangan visimu!"

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini.

"Berilah maka engkau akan menerima "
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Rabu, 19 Januari 2011

Semua Tergantung Sang Pemimpin

Dalam sebuah perang, diperlukan perencanaan yang matang, tepat dan strategis. Suatu hari, satu Batalyon mendapatkan tanggung jawab untuk membuka lahan hutan dan menjadikan "basecamp" bagi pasukan tempur.

Untuk melaksanakan tugas ini, ditunjuklah Seorang Jenderal yang memiliki kemampuan dalam me-manage sumber daya yang ada, memonitor rencana, mengawasi anggaran dan meng-evaluasi pelaksanaan secara berkala.

Persiapan sudah dilakukan semenjak hari pertama. Semua sumber daya sudah dialokasikan berdasarkan kebutuhan, Man Power terampil dalam bidangnya, anggaran tepat sasaran, dan target tercapai dari setiap aktivitas.

Time schedule dan Time Line berjalan dengan lancar dan baik. Team work antar departemen dan divisi berlangsung dengan baik. Peralatan pendukung sudah sesuai kebutuhan kerja. Dan bisa dikatakan, setiap aktivitas dalam pembukaan lahan hutan dan pembangunan Basecamp, berjalan dengan sangat baik. Tidak ada kendala berarti, dan Sang Jenderal pun sangat PUAS dengan hal ini.

Menjelang batas akhir penyelesaian pekerjaan ini, masih ada satu pohon besar yang belum ditebang. Dengan sangat sigap, Sang Jenderal memanjat pohon tersebut. Seluruh Pasukan menghentikan aktivitasnya, dan menanti, apa yang akan dilakukan dan dikatakan Sang Jenderal.

Dipuncak pohon tersebut Sang Jenderal berkata :
"Kepada Pasukan yang tangguh. Saya ucapkan Terima kasih. Kalian sudah menjalankan tugas dengan baik"

Pasukan yang melihat dan mendengar hal itu tersenyum lebar, bahkan sebagian ada yang bertepuk tangan.

Mendadak wajah Sang Jenderal muram. Lalu Sang Jenderal melanjutkan ucapannya.

"Pasukan ku yang luar biasa, ternyata kita SALAH HUTAN".
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Senin, 17 Januari 2011

Setiap Pekerjaan Ada Resiko

Bahkan, pekerjaan seorang pengemis pun ada resikonya, ditangkap Satpol PP dan dihina. Bukan begitu? :')

Jangan berpikir untuk menghindari resiko. Tapi berpikirlah untuk mengatasi resiko. Kalo tujuan kita ingin mendaki gunung yang tinggi, berikut ini resikonya : kehujanan, kepanasan, jalur yang terjal, beban bawa makanan dan air, udara yang dingin, dan binatang yang menjijikan dan menyeramkan. Namanya juga naik gunung, seperti itulah resikonya.

Berpikir untuk menghindari hal tersebut? TAK AKAN MUNGKIN. Dimana menariknya jika tidak ada tantangan seperti itu.

Kumpul Blogger